Kamis, 03 Mei 2012

PENGENALAN PROFIL TANAH


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA VI
PENGENALAN PROFIL TANAH




Oleh :
                                    Nama             :  Mety Apriyanti
                                    NIM               :  A1L011152
                                    Rombongan   :  7
                                   


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012







BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan (Kemas A.H., 2007).
            Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang, dan lebar serta kedalam tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam ( natural forces ) Terhadap proses pembentukan mineral, serta pembentukan dan pelapukan bahan-bahan koloid (Hakim,1982).
            Hasil pelapukan batuan-batuan yang bercampur dengan sisa batuan dari organism yang hidup diatasnya. Selain itu, terdapat pula udara dan air di dalam tanah. Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ke tempat lain, di samping pencampuran bahan organik di dalam proses pembentukan tanah, terbentuk pula lapisan-lapisan tanah (Hardjowigeno,1985).
            Pengenalan profil tanah secara lengkap meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pengenalan ini penting dalam hal mempelajari pembentukan dan klasifikasi tanah dengan pertumbuhan tanaman serta kemungkinan pengolahan tanah yang lebih tepat. Adapun faktor-faktor pembentuk tanah, maka potensi untuk membentuk berbagai jenis tanah yang berbeda amat besar (Foth,1999).
            Dalam rangka penelitian tanah, kadang-kadang diperlukan deskripsi (penguatan) profil tanah. Dari pengamatan sifat-sifat tanah di lapangan serta di sokong oleh analisis contoh tanah di laboratorium yang di ambil dari tiap horizon, di dalam profil, maka dapat ditentukan jenis tanahnya. Tiap jenis tanah dan tipe tanah memiliki ciri yang khas dipandang dari tiap horizon di dalam profil atau dari sifat-sifat fisik dan kimianya. Profil tanah ialah penampang tegak/vertikal tanah di mulai dari permukaan tanah sampai lapisan induk bawah tanah. Solum tanah adalah penampang tanah di mulai dari horizon A hingga horizon B. Terdapat horizon-horizon pada tanah-tanah yang memiliki perkembangan genetis menyugestikan bahwa beberapa proses tertentu, umumnya terdapat dalam perkembangan pembentukan profil tanah ( Gobenhog,1994 ).
            Pembentukan lapisan atau perkembangan horizon dapat membangun tubuh alam yang di sebut tanah. Tiap tanah di cirikan oleh susunan horizon tertentu. Secara umum dapat di sebutkan bahwa setiap profil tanah terdiri atas dua atau lebih horizon utama. Tiap horizon dapat dibedakan berdasarkan warna, tekstur, struktur dan sifat morfologis lainnya (Pairunan.1985).
            Faktor-faktor pembentukan tanah adalah tidak tergantung ( bebas ), namun perlu dilihat situasinya. Oleh karena itu, dari seluruh faktor pada bentang lahan yang efektif sehingga hanya satu faktor peubah yang tampak. Hal ini menjadikan sekuen-sekuen tanah dapat dikatakan hanya dirajai oleh faktor tunggal, sehingga dapat ditemui tanah-tanah climosekuen, biosekuen, toposekuen, litosekuen, dan kronosekuen ( Jenny,1941 ).
                Apabila kita menggali lubang pada tanah, maka kalau kita perhatikan dengan teliti pada masing-masing sisi lubang tersebut akan terdapat lapisan-lapisan tanah yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Di suatu tempat ditemukan lapisan berseling-seling dengan lapisan liat, lempung atau debu, sedang ditempat lain ditemukan tanah yang semuanya terdiri dari liat, tetapi di lapisan bawah berwarna kelabu dengan bercak-bercak merah, dibagian tangah berwarna merah, dan lapisan atasnya berwarna kehitam-hitaman.
            Lapisan tersebut terbentuk karena dua hal, yaitu :
1.      Pengendapan yang berulang-ulang oleh genangan air.
2.      Proses pembentukan tanah.
            Horison tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukan tanah. Proses pembentukan horison-horison tersebut akan menghasilkan benda alam baru yang disebut tanah. Penampang vertikal tanah tersebut akan menunjukkan susunan horison yanag disebut profil tanah.
            Profil dari tanah mineral yang telah berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison, horison-horison tersebut diantara lain yaitu :
1)      Horison O adalah horison yang terdiri dari bahan serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa). Horison ini ditemukan terutama pada tanah-tanah hutan yang masih utuh. Merupakan horison organik yang terbentuk diatas lapisan tanah mineral.
2)      Horison A1 adalah horison mineral berbahan organik tanah (BOT) tinggi, sehingga berwarna agak gelap. A2 – Horison dimana terdapat pencucian (eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, A dan bahan organik. A3 – Horison peralihan ke B, lebih menyerupai A. Horison dipermukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Merupakan horison eluvasi, yaitu horison yang mengalami pencucian.
3)      Horison E adalah horison mineral yang telah tereloviasi (tercuci) sehingga kadar BOT, liat silikat, Fe dan Al rendah tetapi kadar pasir & debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi serta berwarna terang.
4)      Horison B adalah horison illuviasi yaitu horison akumulasi bahan eluvial dari horison diatasnya.
5)      Horison C adalah lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk atau belum terjadi perubahan secara kimiawi.
6)      Horison R adalah batuan keras yang belum dilapuk sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman.
            Perlu dijelaskan bahwa tanah tidak selalu mempunyai susunan tanah seperti tersebut diatas. Horison O hanya terdapat pada tanah hutan yang belum digunakan untuk usaha pertanian. Banyak tanah yang tidak mempunyai horison A2 karena tidak terjadi proses pencucian dalam proses pembentukan tanah tersebut. Di samping itu ada juga tanah yang hanya mempunyai horison A dan C saja karena proses pembentukkan tanahnya baru pada tingkat permulaan.


B.     Tujuan
            Untuk mengetahui profil tanah atau lahan di suatu daerah.








BAB II
METODE KERJA


A.    Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan pada praktikum ini diantaranya bor tanah, abney level (clinometer) untuk mengukur kemiringan tanah, kompas, altimeter, pH saku, botol semprot, kertas label, meteran, buku Munsell Soil Color Chart, kantong plastik, spidol, buku pedoman pengamatan tanah di lapang, dan daftar isian profil.
            Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan H2O2 3%, larutan HCL 10%, larutan αα-dipridil dalam 1N NH4Oac neteral, akuades dan lahan pengamatan.


B.     Prosedur Kerja
1.      Tempat pembuatan profil dipilih, sebelumnya dilakukan pengeboran (boring) ditempat-tempat sekitar profil yang akan dibuat sedalam 1 meter pada 2 atau 3 tempat berjarak 1meter, yang berguna supaya tercapai keseragaman.
2.      Lubang yang telah digali sedemikian rupa sehingga terbentuk profil tanah dengan ukuran panjang 2 m, lebar 1,5 m. Didepan bidang pengamatan profil dibuat tangga (trap) ke bawah untuk memudahkan pengamatan.


C.    Pengamatan
            Pengamatan dimulai dengan mengukur dalamnya profil, diukur dari lapisan atas sampai bawah. Penarikan batas horison atau lapisan tanah dapt ditentukan dengan melihat pebedaan warna atau menusuk-nusuk pisau ke dalam tanah dengan tekanan tetap untuk merasakan perbedaan kekerasannya. Selanjutnya dilakukan penetapan horison-horison dan penncatatan pada daftar isian profil.


Dalam pengamatan tebal horison perlu diamati :
1.      Kejelasan yang dibedakan atas :
            a  = abrupt (nyata) jika tebalnya < 2,5 cm
            c  = clear (jelas), batas peralihannya 2,50-6,25 cm
            g  = gradual (berangsur), batas peralihannya 6,25- 12,5 cm
            d  = diffuse (baur), batas peralihannya >12,5 cm
2.      Topografi batas horison yang dibedakan atas :
            s  = smooth (rata), batasnya lurus teratur
            w = wavy (berombak), berbentuk kantong, lebar > dalam
            i  = irregular (tidak teratur), berbentuk kantong, lebar < dalam
            b = broken (terputus), batas horison tidak dapat disambungkan

            Setelah masing-masing horison diketahui batasnya, masing-masing lapisan diamati : warna, tekstur, struktur, konsistensi, pH, perakaran, kedalaman, bentukan istimewa seperti konkresi, horison penciri, dan sebagainya.
            Selain ciri-ciri morfologi profil, perlu juga dicatat faktor-faktor sekeliling yaitu relief, lereng (posisi, bentuk), bentuk wilayah, ketinggian tempat, bahan induk, drainase (kelas), permeabilitas, bentuk erosi, vegetasi, iklim, curah hujan, permukaan air tanah, usaha tani, keadaan batu, dan sebagainya.








BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


A.    Hasil Pengamatan
DESKRIPSI PROFIL
Pemeta      : Kelompok 4
No lapang : 1 (Satu)
Tanggal     : 12 April 2012
Seri : -

Fase : -
Tanda satuan peta tanah : -

Lembaran               : -
Peta                        : -
Photo udara           : -
Propinsi                  : Jawa tengah
Kabupaten              : Banyumas
Kecamatan             : Purwokerto         Utara
Desa/kel                 : Karangwangkal
Ketinggian tempat : 90 dpl
Fisiografi           : Pengendapan/Sedimen
Bahan Induk      : Pengaruh dari vulkanik
Formasi geologi : Aluvium Qal

RELIEF
Makro : Datar

Mikro  : Datar

Cuaca           : Berawan
Iklim             : -
Tipe (kopen) : -
Curah hujan  : -                          mm/th
Bulan kering : -                          bulan
LERENG
Tunggal : Lurus               Ganda  : -
Bentuk  : -                       Panjang : 200 m
Arah      : Timur               Letak   : -
                                          

DRAINASE
Permukaan                : Cepat
Kedalaman air tanah : > 25 m
Permeabilitas            : Sedang
Glei                           : -
Vegetasi  : Asli
Dominan : Semak belukar
Spesialis  : Pisang dan Mangga



BATUAN
Di permukaan : 3-5 % dari penampang
Dilapsan ke     : - % dari penampangan
EROSI
Jenis erosi              : Percik
Tingkatan               : Rendah
Usaha pencegahan : -
PENGGUNAAN TANAH
Lamanya            : ­-
Tanaman utama : ­Semak belukar

Kemampuan wilayah :
Posisi penampang bagan (gambar)
Sumber air : Tadah hujan


Nomer lapisan
1
2
3
4
5
Dalam lapisan
0-16 cm
16-39 cm
39-65 cm
65-88 cm
88-150 cm
Warna tanah
10 YR 4/6
10 YR 4/6
10 YR 4/4
10 YR 4/3
Tekstur tanah
Sendilum
Sendilerum liat berpasir agak lekat
Sendilum lempung berpasir tdk lekat tdk plastis
Sendilum berpasir tidak lekat tdk plastis
Lumisen pasir berlempung
Struktur tanah
Ukuran halus , 5-10 mm derjat lunak
Ukuran halus Derajat lunak, gumpal membulat
Kasar 20-40 mm, gumpalan membulat, derajat cukupan
Gumpalan membulat, 30- 50 mm, derajat kuat
Gumpalan membulat, 10-20 mm, derajat sedang/ cukupan
Konsistensi
Tidak lekat tidak plastis
Agak lekat
Tidak lekat tidak plastis
Tidak lekat tidak plastis
-
Karatan
-
-
-
Mangan (Mn)
-
pH tanah (lapang)
5-6
6
5-6
5,5
5,3
Reaksi terhadap HCl
-
-
-
-
-
Perakaran
-
-
sedang
-
-
Epipedon
Ochric
Ochric
Ochric
Ochric
Ochric
Horison penciri bawah
Cambric
Cambric
Cambric
Cambric
Cambric


B.     Pembahasan
            Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian. Tanah merupakan tubuh alam yang terbentuk dan berkembang akibat terkena gaya-gaya alam (natural forces) terhadap proses pembentukan mineral. Pembentukan dan pelapukan bahan-bahan organik pertukaran ion-ion, pergerakan dan pencucian bahan-bahan koloid (Wahyuaskari, 2011).
            Pengenalan tanah di lapangan dilakukan dengan mengamati menjelaskan sifat-sifat profil tanah. Profil tanah adalah urutan-urutan horison tanah, yakni lapisan-lapisan tanah yang dianggap sejajar permukaan bumi. Profil tanah dipelajari menggali tanah dengan dinding lubang vertikal kelapisan yang lebih bawah.
            Cara pembuatan profil tanah ada 3 yaitu :
a.       Boring yaitu membuat lubang kedalam tanah dengan menggunakan alat bor manual maupun alat bor mesin dengan kedalaman ± 120 cm
b.      Minipit yaitu mengambil sampel tanah dengan kedalaman ±150 – 180 cm
c.       Profil yaitu sama dengan minipit namun lebih baik dengan kedalaman ±150 – 180 cm.
Hasil pengamatan profil tanah
            Ada pun yang diamati dalam praktikum kali ini, yaitu :
1.      Warna Tanah
            Suatu profil tanah terdiri dari horizon-horizon dengan warna beragam antara horizon dan dalam satu horizon. Pada pemerian profil tanah, warna setiap horizon itu haruslah diperi secara lengkap. Pemberian warna tanah juga perlu memperhatikan hubungan antara pola warna dengan struktu tanah kesarangan tanah. Agregat tanah yang disidik perlu di hancurkan untuk memastikan apakah warna tanah tampak itu seragam diseluruh agregat. Buku Munsell Soil Color Chart merupakan buku pedoman pemberian warna tanah yang dipublikasikan oleh Badan Pertanian Amerika Serikat (USDA) (Poerwidodo, 1991).


2.      Tekstur Tanah
            Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). Dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0,05 mm, debu dengan ukuran 0,05 – 0,002 mm dan liat dengan ukuran <0,002 mm (penggolongan berdasarkan USDA). Keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan lain-lain (Hanafiah, 2007).
3.      Struktur Tanah
            Struktur tanah menunjukkan kombinasi atau susunan partikel-partikel tanah primer (pasir, debu, dan liat) sampai pada partikel-partikel sekunder atau ped disebut juga agregat. Struktur suatu horizon yang berbeda satu profil tanah merupakan satu ciri penting tanah, seperti warna tekstur atau komposisi kimia. Struktur mengubah pengaruh tekstur dengan memperhatikan hubungan kelembaban udara. Struktur berkembang tidak dari satu butir tunggal maupun dari keadaan pejal (Foth, 1998).
4.      Konsistensi Tanah
            Konsistensi adalah salah satu sifat fisika tanah yang menggambarkan ketahanan tanah pada saat memperoleh gaya atau tekanan dari luar yang menggambarkan bekerjanya gaya kohesi (tarik menarik antar partikel) dan adhesi (tarik menarik antara partikel dan air) dengan berbagai kelembaban tanah. Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butir-butir tanah dengan benda lain (Hardjowigeno, 1992).
5.      pH Tanah
            pH tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Bila kandungan H+ sama dengan OH maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Hardjowigeno, 2010).
            Larutan HCl digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan kapur pada tanah, jika tanah berbuih berarti terdapat kandungan kapur di dalam tanah. Sementara Larutan H2O2 digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan bahan organik pada tanah, jika tanah berbuih berarti terdapat kandungan bahan organik di dalam tanah.
            Daerah yang diamati profil tanah yaitu  Kelurahan/Desa Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara,  Kabupaten/ Kota Banyumas Propinsi Jawa Tengah. Hasil dari pembuatan profil tanah pada praktikum tanah tersebut dapat dimasukkan kedalam ordo inceptisol, sub ordo udep,  sub group  dystrudeis, group typic dystrudept.
            Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur.
            Padanan nama tanah antara Soil Taxonomy tahun 1999 (A) dengan berbagai sistem klasifikasi tanah lain, yaitu: FAO Unesco tahun 1974 (B), Dudal dan Supraptohardjo tahun 1957 (C) dan Thorp and Smith tahun 1949 (D) adalah sebagai berikut:
A.      Inceptisol.
B.      Fluvisols; Cambisols; Cambisols; Gleysols; Solonchaks.
C.      Alluvials; Regosols; Latosols; Brown Forest Soils (Calcisols); Humic Gley Soils(Hydrosols);Low Humic Gley Soils (Hydrosols).
D.      Alluvial Soils; Regosols; Laterit Soils (Latosols); Brown Forest Soils (Braunerde); Humic-Glei Soils; Solonchak.
      Kegunaan profil tanah bagi pertanian, yaitu :
1)  Untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O - A) dan solum tanah            (O – A – E – B) agar proses pertanian dapat menghasilkan hasil yang baik.
2)   Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil.
3)   Untuk mengetahui warna tanah.







BAB IV
KESIMPULAN


            Berdasarkan hasil praktikum pembuatan profil tanah dapat disimpulkan bahwa tanah yang  ada di daerah kampus Unsoed tepatnya di Desa/Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten/Kota Banyumas Propinsi Jawa Tengah merupakan tanah Inseptisol.








DAFTAR PUSTAKA


Foth, Henry D. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press.     Yogyakarta.
Gobahong.1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Hakim,N.M.Y, dkk.1982. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung.             Lampung.
Hanafiah, Kemas A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.
Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah. Rajawali. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar